Buku yang bersumber dari disertasi Dave McRae ini sangat menarik. Pendekatannya baru, yaitu menelaah konflik Poso dari dinamika kekerasan yang terjadi, serta terjadinya pembagian kerja dalam melancarkan kekerasan antara kombatan inti di satu sisi dan anggota masyarakat biasa di sisi lain.

Berbagai penelitian lain biasanya bertitik tolak dari faktor kausal, mengapa perang atau konflik terjadi, dan ketika faktor sumber konflik sudah diselesaikan, maka kekerasan segera berhenti. Sumber konflik ibarat penyakit. Apabila sudah ditemukan penyakitnya, maka segera dapat diduga obatnya dan segera dilakukan treatment agar penyakit segera hilang.

Kajian tentang konflik di Poso ini dilakukan sangat komprehensif, tetapi masih ada beberapa pertanyaan yang belum terjawab tuntas, misalnya terkait karakteristik konflik komunal antaragama. Lalu soal langgengnya kekerasan yang terjadi pada konflik Poso serta melemahnya kesepakatan rekonsiliasi yang dilakukan elite pemerintah melalui perjanjian perdamaian Malino. Ketiga peluang inilah yang akan saya isi dalam resensi buku ini.

Sulit diselesaikan

Burton (1996) menyatakan bahwa konflik yang menggunakan identitas agama adalah konflik yang sangat rumit dan dilematis, serta tidak dapat dinegosiasikan. Identitas agama dalam hal ini berkaitan langsung dengan eksistensi dan kebutuhan dasar manusia. Bar-Tal (2000), seorang ahli konflik, yang banyak melakukan penelitian tentang konflik identitas yang berakar pada sejarah dan konflik yang berlarut-larut, mengambil kesimpulan bahwa konflik dengan identitas adalah konflik yang sulit diselesaikan (intractable conflict) dan hampir tidak ada harapan untuk diselesaikan.

Karakteristik intractable conflict secara jelas digambarkan oleh Coleman (2006), yaitu adanya sejarah tentang dominasi dan situasi yang tidak adil di masa lampau; terjadinya perubahan dominasi; isu yang sangat kompleks, yang saling berkaitan antara ekonomi, politik, dan budaya. Selain itu, juga harus dilihat dari proses konflik yang sangat emosional, penuh penghinaan, penuh kekerasan, melibatkan seluruh level, totalitas, dan konflik berlangsung dengan intensitas tinggi.

Dari karakteristik intractable conflict yang dikemukakan oleh Bar-Tal dan Coleman ini kita bisa menjelaskan mengapa konflik dengan identitas agama apabila tidak dapat diselesaikan tuntas akan terus berlarut-larut. Kekerasan yang mungkin terjadi juga sangat mengerikan. Seluruh kelompok masyarakat terlibat secara aktif dalam konflik, bukan hanya kombatan inti. Pemuka agama, perempuan, pegawai negeri, pedagang, dan kelompok lainnya semua terlibat aktif dalam konflik di Poso. Adapun kombatan inti yang terlatih, memimpin serangan demi serangan seperti yang dijelaskan Dave McRae di dalam bab 4 dan bab 5 buku ini.

Sindrom ”victimhood”

Pertanyaan lain yang mengemuka adalah mengapa kekerasan terus berkelanjutan di masyarakat Poso. Lingkaran balas dendam terus terjadi dan semakin meluas setelah episode serangan kelompok Kristen ke Pesantren Walisongo pada Mei-Juni 2000, serta pembalasan yang dilakukan kelompok Muslim pada November-Desember 2001. Konflik terus berlanjut hingga tahun 2012.

Merujuk Bar-tal, dkk (2009) ternyata ada fakta yang menarik pada intractable conflict. Para korban konflik pada umumnya akan mengalami sindrom victimhood, yaitu selalu memiliki sikap, perasaan, dan emosi negatif terhadap kelompok lain yang menjadi lawannya. Perasaan dan emosi negatif ini menyebabkan terpeliharanya etos konflik dan ingatan kolektif masyarakat terhadap konflik, yang pada akhirnya melanggengkan konflik.

Dari sindrom victimhood ini, menurut Noor, dkk (2008), akan muncul competitive victimhood, yaitu adanya saling klaim yang subyektif di antara kedua kelompok korban, yang menyatakan bahwa satu kelompok lebih menderita dibandingkan kelompok lainnya (out-group). Klaim bukan hanya ingin dianggap sebagai yang lebih menderita, tetapi juga ingin dianggap sebagai kelompok yang paling diperlakukan tidak adil oleh kelompok lainnya.

Penelitian yang dilakukan oleh Noor, dkk (2008) pada konflik di Irlandia Utara dan Cile mendapatkan hasil yang menarik. Ketika kompetisi sebagai pihak yang lebih menjadi korban semakin berkurang, tingkat rasa percaya terhadap out-group semakin meningkat. Hal ini dapat diasosiasikan dengan pemaafan antarkelompok yang juga kian meningkat.

Salah arah

Pendekatan rekonsiliasi Malino adalah pendekatan yang bersifat top down. Banyak kelompok yang terlibat dalam konflik tidak dilibatkan dalam proses rekonsiliasi. Kesepakatan yang ada hanya mengikat mereka yang terlibat dalam perundingan, padahal mereka yang berunding tidak terlibat dalam pertempuran di lapangan.

Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa setiap pihak yang berkonflik merasa sebagai korban, upaya rekonsiliasi melalui pemaafan atau forgiveness menjadi tidak efektif. Selain itu, dalam konflik komunal dengan identitas agama, semua orang adalah korban dan sekaligus perpetrator sehingga pendekatan menegakkan keadilan menjadi rumit.

Di sisi lain, persoalan mendasar dari konflik bernuansa agama adalah keterbelahan total masyarakat akibat konflik. Keterbelahan masyarakat inilah yang harus dibereskan terlebih dahulu melalui program integrasi (we-ness), seperti yang dilakukan oleh gerakan Baku Bae di Maluku (Muluk, H; Malik, I 2009). Baru setelah terbentuknya we-ness atau togetherness di masyarakat, kita baru bisa menegakkan keadilan dan pemaafan. Inilah juga jawaban untuk pertanyaan mengapa konflik dan kekerasan tetap langgeng di Poso.

 

Oleh :
ICHSAN MALIK

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

CONTACT US

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Sending

©2019 Forum Nasional Bhinneka Tunggal Ika

Log in with your credentials

Forgot your details?

Skip to toolbar